Pasca Terkena Sell-Off, Wall Street akan Dibuka Menguat

Pasca terkena sell-off pada perdagangan kemarin (18/10/2018), Wall Street akan dibuka menguat pada hari ini: kontrak futures Dow Jones mengimplikasikan kenaikan sebesar 122 poin pada saat pembukaan, sementara S&P 500 dan Nasdaq diimplikasikan naik masing-masing sebesar 11 dan 50 poin.

Aksi jual yang terjadi pada perdagangan kemarin telah membuka ruang bagi investor untuk melakukan akumulasi. Apalagi, mayoritas bursa saham utama kawasan Asia mengakhiri hari di zona hijau pasca China mengumumkan data pertumbuhan ekonomi yang di bawah ekspektasi: indeks Shanghai melesat 2,58%, indeks Hang Seng menguat 0,42%, dan indeks Kospi naik 0,37%.

Pada kuartal-III 2018, perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,5% YoY, lebih rendah dari ekspektasi yang sebesar 6,6% YoY. Capaian ini merupakan yang terendah sejak 2009 silam.

Namun, data ini justru diartikan positif oleh pelaku pasar. Lemahnya pertumbuhan ekonomi China mengindikasikan bahwa upaya otoritas untuk meredam timbunan utang, terutama yang termasuk dalam kategori shadow banking, telah membuahkan hasil.

Sebagai informasi, permasalahan shadow banking di China merupakan salah satu risiko yang bisa membawa perekonomian dunia ke dalam jurang krisis. Moody’s melaporkan bahwa nilai shadow banking di China per semester-I 2017 adalah sebesar US$ 9,72 triliun. Jika dikonversi dengan menggunakan kurs Rp 15.000/dolar AS, nilainya adalah sebesar Rp 145.800 triliun.

Di sisi lain, sejumlah risiko seperti negosiasi Brexit yang tak berjalan mulus, masalah defisit anggaran di Italia, hingga hilangnya jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi berpotensi membuat Wall Street menipiskan penguatannya atau bahkan membuatnya ditutup di zona merah.

Pada pukul 21:00 WIB, data penjualan hunian bekas periode September akan diumumkan.

Pada pukul 23:00 WIB, anggota FOMC Raphael Bostic dijadwalkan berbicara mengenai prospek perekonomian di Georgia. (cnbcindonesia.com)